BAB 11 – KONSEP BUDAYA DAN ARTI PENTINGNYA MEMPERHATIKAN FAKTOR BUDAYA DALAM PENYUSUNAN STRATEGI PEMASARAN

Budaya adalah keseluruhan yang kompleks (complex whole) meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum moral, kebiasaan, dan setiap kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh oleh setiap orang sebagai anggota masyarakat.

Ada 4 (empat) komponen dalam budaya, yaitu :                            

Merupakan konsep yang komprehensip atau menyeluruh, sebab budaya meliputi hampir semua hal yang mempengaruhi proses pemikiran individu dan perilakunya.

 

Budaya diperoleh (culture is acquired). Budaya tidak meliputi respond an predisposisi yang diwariskan. Namun demikian, oleh karena sebagian besar perilaku manusia dipelajari dari pada pembawaan sejak lahir (learned rather than innate), maka budaya benar-benar mempengaruhi perilaku.

 

Kekompakkan masyarakat modern sedemikian rupa sehingga budaya jarang memberikan resep yang rinci untuk perilaku yang tepat. Sebagai gantinya, di dalam masyarakat industri, budaya memberikan batas (boundaries) di dalam batas mana individu atau perorangan berpikir dan bertindak.

Ciri pengaruh budaya ialah bahwa kita jarang menyadarinya. Seseorang berperilaku, berfikir dan merasa konsisten dengan anggota lainnya dari yang sama, sebab kelihatannya memang alamiah (natural) atau memang sudah benar apa yang dia lakukan.

 

Budaya beroperasi dengan batas yang tidak jelas untuk perilaku individu dan dengan mempengaruhi fungsi institusi atau lembaga seperti famili atau media massa. Jadi budaya menyediakan kerangka kerja (framework) di mana gaya hidup individu dan rumah tangga terlibat.

Berikut adalah gambar dari faktor budaya yang mempengaruhi perilaku dan strategi pemasaran..

 

 

Kenyataan menunjukkan bahwa baik Negara yang maju maupun yang sedang berkembang sangat memperhatikan pengaruh westernisasi khususnya Amerika nisasi terhadap budaya Negara mereka.Variasi di Dalam Nilai Budaya

Ada banyak nilai yang bervariasi lintas budaya dan mempengaruhi konsumsi. Ada 3 bentuk nilai budaya, yaitu :

Berorientasi pada Pihak Lain

Berorientasi pada pihak lain (other oriented) mencerminkan pandangan suatu masyarakat tentang hubungan yang tepat antara individu/perorangan dengan kelompok dalam suatu masyarakat tersebut. Hubungan ini mempunyai pengaruh besar pada praktik pemasaran. Berikut uraian yang lebih lanjut :

  • “Perorangan/Kolektif”.
  • Youth/Age.
  • Extended/Limited Family.
  • Masculine/Feminine.
  • Competitive/Comperative.
  • Diversity/Uniformity.

 > Berorientasi pada Lingkungan atau “Environment Oriented”

Berorientasi pada lingkungan (environment oriented) menentukan hubungan masyarakat dengan ekonominya serta lingkungan fisik dan teknis. Sebagai pemasar harus mengembangkan suatu program pemasaran yang berbeda untuk suatu masyarakat.

  • Kebersihan (cleanliness).
  • Kinerja/status
  • Tradisi/perubahan
  • Risk Taking/Security
  • Problem Solving/Fatalistic.
  • Alam (nature)

Berorientasi pada Diri Sendiri

Berorientasi pada diri sendiri (self oriented) mencerminkan tujuan dan pendekatan terhadap hidup, bahwa anggota perorangan dari masyarakat lebih diinginkan (bukan kelompok yang di utamakan). Nilai ini mempunyai implikasi yang kuat untuk manajemen pemasaran.

  • Active/Passive
  • Sensual Gratification/abstinence
  • Material/Non material
  • Hard work/Leisure
  • Postpone gratification/Immediate gratification
  • Religious/Secular

Variasi Kultural (Budaya) dalam Komunikasi Non Verbal

Variasi dalam bahasa verbal mudah dilihat dan diterima sebab kita menyadari bahwa bahasa merupakan suatu invensi sembarang artinya suatu kata (a word) berarti bahwa sekelompok orang rendah menyetujui artinya. Suatu upaya menterjemahkan komunikasi pemasaran dari satu bahasa ke bahasa lain dapat mengakibatkan komunikasi yang tidak efektif.

 

Budaya dan Demografi Global

Isu penting yang dihadapi oleh pemasar adalah perluasan pada salah satu atau lebih pada budaya global konsumen atau pangsa yang tergabung.

Budaya global diciptakan oleh globalisasi media masa, pekerjaan, pendidikan dan perjalanan. Beberapa kategori (telepon genggam, internet, faks) dan merek (sony, nike, jaguar, Aigner) menjadi simbolis yang terkait dengan budaya ini. Hal ini tidak berarti bahwa merek-merek ini menggunakan iklan yang sama secara global akan tetapi tema dan symbol yang mendasari sama.

Strategi Pemasaran Lintas Budaya

Kontroversi berlanjut masih terjadi mengenai sejauh mana strategi pemasaran lintas budaya, khususnya mengenai periklanan, harus dibuat baku (standardized). Strategi yang baku, kalau bisa, akan sangat menghemat biaya.


This entry was posted in TUGAS AKHIR PERILAKU KONSUMEN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s