Tugas Akhir : Perilaku Konsumen

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BAB 13 – TINGKAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN

Keputusan konsumen untuk membeli atau tidak membeli suatu produk atau jasa merupakan saat yang penting bagi pemasar. karena keputusan ini dapat menandai apakah suatu strategi pemasaran telah cukup bijaksana, berwawasan  luas, dan  efektif, atau apakah kurang baik direncanakan atau keliru menetapkan sasaran. Keputusan merupakan seleksi terhadap dua pilihan alternative atau lebih.

Riset konsumen eksperimental mengungkapkan bahwa menyediakan pilihan bagi konsumen ketika sesungguhnya tidak ada satu pun pilihan, dapat dijadikan strategi bisnis yang tepat, strategi tersebut dapat meningkatkan penjualan dalam jumlah yang sangat besar.

Terdapat tiga tingkat pengambilan keputusan konsumen spesifik, yaitu:

  1. Pemecahan masalah yang luas
  2. Pemecahan masalah yang terbatas
  3. Perilaku sebagai respon yang rutin

Empat Pandangan Mengenai Pengambilan Keputusan Konsumen
Teori-teori pengambilan keputusan konsumen bervariasi, tergantung kepada asumsi peneliti mengenai sifat-sifat manusia.

Terdapat empat pandangan atas pengambilan keputusan konsumen:

  1. Pandangan ekonomi
  2. Pandangan pasif
  3.  Pemasar
  4. Pandangan kognitif
  5. Pandangan emosionaL

 

  1. 2.      KESADARAN KONSUMEN  TERHADAP KEBUTUHAN DAN KEINGINANNYA

Dapatnya  kebutuhan diklasivikasikan  oleh beberapa ahli memberikan gambaran kebutuhan konsumen tetap dalam jangka waktu yang lam.pengembangan atau kombinasi dari kebutuhan tersebut,mempunyai jangka waktu aktif lebih temporer dan berlangsung  pada individu konsumen.manusia membutuhkan makanan dalam keadaan lapar dan minuman dalam keadaan haus,dimana zuwendi seorang muslim minum air dingin yang tidak beralkohol.abraham maslow (pramudya sunu,1999,:6)

Mengklasifikasikan kebutuhan secara sistematik ke dalam lima katagori sebagai berikut :

  • Kebutuhan fisiologis
  • Kebutuhan rasa aman
  • Kebutuhan sosial
  • Kebutuhan ego
  • Kebutuhan perwujudan diri

 

Kenyataanya ,produk  diproduksi oleh produsen dan sebagai individu konsumen tidak menyadari kebutuhaannya sendiri. Hal tersebut sejalan dengan hambatan orientasi pasar dalam pandangan indriantiy sudirman (2003:16) sebagai berikut :

  • Pelanggan tidak selalu menyadari kebutuhannya, terutama kebutuhan waktu yang akan datang sehingga perusahaan perlu mengarahkannya sebelum perusahaan lain melakukannya.
  • Meskipun kebutuhan tersebut dapat di identifikasikan oleh pelanggan, mereka sendiri tidak mamou  menentukan cara terbaik  untuk memenuhinya.

Kegiatan Pencaria Informasi

Kegiatan pencarian informasi dilakukan  konsumen yang mempunyai kesadaran terhadap kebutuhan dan keinginan. Kesadaran tersebut,menjadi dorongan internal konsumen mengumpulkan informasi mengenai tersedianya berbagai alternative yang memenuhi atau akn memenuhi  kebutuhan dan keinginannya.ketersediaan alternative dalam keberadaannya  dibatasi sumber daya individu konsumen dan kemampuan organisasi dengan produknya yang memunculkan perbedaan.sutisna (2001:21) menyebutkan terdapat 2 tipe pencarian informasi yang dilakukan olehkonsumen sebagai mana diperlihatkan dalam table sebagai berikut :

 

 

 

Tabel

Tipe-tipe pencarian informasi yang dilakukan konsumen

Pencarian informasi pra pembelian Pencarian informasi terus menerus
Determine

  • Keterlibatan dalam pembelian
  • Lingkungan pasar
  • Factor-faktor situasional

Motif pencarian

  • Membuat keputusan pembelian yang lebih baik

Hasil yang diharapkan

  • Meningkatkan pengetahuan atas produk dan pasar
  • Meningkatkan hasil yang memuaskan
Determine

  • Keterlibatan dengan produk
  • Lingkungan pasar
  • Factor-faktor situasional

Motif pencarian

  • Membangun bank informasi untuk digunakan pada masa mendatang sebagai cara untuk bersenang-senang

Hasil yang diharapkan

  • Meningkatkan pengetahuan atas produk dan pasar yang akan digunakan untuk pembelian efektif dan efisien pada masa mendatang
  • Mempengaruhi orang lain
  • Meningkatkan kepuasa

 

Berdasarkan table,terdapat dua tipe pencarian informasi yang dilakukan konsumen,yaitu pencarian informasi pra pembelian, pencarian informasi terus menerus.perbedaan penting dari dua tipe tersebut,pra pembelian merupakan kegiatan pengobatan sedangkan informasi terus menerus  sebagai pencegahan.bersama tampak pada tujuan memperoleh alternative terbaik dengan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin yang dapat diketahui.

Posted in TUGAS AKHIR PERILAKU KONSUMEN | Leave a comment

BAB 12 – PENGARUH KONSUMEN DAN PENYEBARAN INOVASI

DINAMIKA PROSES KEPEMIMPINAN PENDAPAT

Proses kepemimpinan pendapat merupakan kekuatan konsumen nyang sangat dianamis dan berpengaruh. Sebagai sumber komunikasi informal, para pemimpin pendapat sangat efektif mempengaruhi para konsumen dalam keputusan mereka yang berhubungan dengan produk. Beberapa sebab dari keefektifan para pemimpin pendapat dibahas pada bagian berikut ini.

  • KREDIBILITAS
  • INFORMASI PRODUK YANG POSITIF DAN NEGATIF
  • INFORMASI DAN NASIHAT
  • KEPEMIMPINAN PENDAPAT BERSIFAT SPESIFIK MENURUT KATEGORI
  • KEPEMIMPINAN PENDAPAT MERUPAKAN JALAN DUA ARAH

MOTIVASI DI BELAKANG KEPEMIMPINAN PENDAPAT

Untuk memahami fenomena kepemimpinan pendapat, sangat berguna mempelajari motivasi mereka yang memberikan dan mereka yang menerima informasi yang berhubungan dengan produk.

  • KEBUTUHAN PARA PEMIMPIN PENDAPAT
  • KEBUTUHAN PARA PENERIMA PENDAPAT
  • PEMBELI PENGGANTI VERSUS PEMIMPIN PENDAPAT

PENGUKURAN KEPEMIMPINAN PENDAPAT

            Para peneliti konsumenm tertarik untuk mengenali dan mengukur pengaruh proses kepemimpinan pendapat terhadap perilaku konsumsi. Dalam mengukur kepemimpinan pendapat, peneliti mempunyai pilihan dari empat teknik pengukuran yang pokok yaitu ;

  1. Metode penunjukan diri
  2. Metode sosiometris
  3. Metode pelapor kunci
  4. Metode obyektif

PROFIL PEMIMPIN PENDAPAT

Karakteristik profil pemimpin pendapat:

SIFAT-SIFAT UMUM UNTUK KATEGORI PRODUK SIFAT-SIFAT UNTUK KATEGORI KHUSUS
Keinovatifan Perhatian
Kesediaan untuk bicara Pengetahuan
Kepercayaan diri Keterbukaan terhadap media minat khusus
Kesukaan berkumpul Usia yang sama
Pembedaan kognitif Status soisal yang sama dan keterbuakaan terhadap masyarakat diluar kelompok

LINGKUNGAN SITUASIONAL KEPEMIMPINAN PENDAPAT

ARUS KOMUNIKASI DUA LANGKAH

PENYEBARAN INOVASI

            Kerangka untuk mengadakan penelitian mengenai penerimaan konsumen terhadap berbagai produk baru diambil dari bidang penelitian yang dikenal sebagai penyebaran inovasi. Para peneliti konsumen yang mengkhususkan diri dalam penyebaran inovasi sangat tertarik untuk memahami dua proses yang berhubungan erat : proses penyebaran  dan proses adopsi.

  1. INOVASI

Tidak ada definisi atau istilah dari inovasi atau produk baru yang dapat diterima secara universal. Sebagai gantinya, pendekatan telah diambil untuk mendefinisikan produk baru atau jasa baru, semuanya ini dapat diklasifikasikan sebagai definisi inovasi yang berorientasi perusahaan, produk, pasar, dan konsumen.

 

Definisi yang berorientasi perusahaan

Pendekatan dengan orientasi ini memandang produk tertentu dari perspektif perusahaan yang menghasilkan atau memasarkannya. Jika produk itu “baru” bagi perusahaan, produk baru dianggap baru. Definisi ini mengabaikan apakah produk itu benar-benar baru atau tidak bagi pasar ( yaitu bagi para pesaing atau para konsumen). Sesuai dengan pandangan ini, tiruan atau modifikasi dari produk para pesaing akan memenuhi syarat sebagai baru.

Definisi yang berorientasi produk

Berbeda dengan yang berorientasi perusahaan, pendekatan dengan orientasi ini memfokuskan pada keistimewaan yang melekat pada produk itu sendiri dan dampak keistimewaan ini pada pola pemakaian konsumen yang telah terbentuk. Satu kerangka yang berorientasi produk mempertimbangkan tingkat gangguan produk baru terhadap pola perilau yang sudah terbentuk.

Kerangka ini mendefinisikan ketiga tipe tipe inovasi produk esebagai berikut ;

  1. Inovasi yang berkesinambungan
  2. Inovasi yang berkesinambungan yang secara dinais
  3. Inovasi yang tidak berkesinambungan

Definisi yang berorientasi pasar

Pendekatan dengan orientasi ini menilai barunya produk dari sudut sejauh mana para konsumen terbuka terhadap produk baru. Ua definisi inovasi produk yang berorientasi pasar telah digunakan berbagai studi mengenai konsumen :

  • Produk dianggap baru jika telah dibeli oleh sejumlah calon pasar yang presentasenya relatif kecil (pasti).
  • Produk dianggap baru jika telah ada dipasar selama jangka waktu yang relatif pendek (tertentu).

Kedua definisi ini pada dasarnya subyektif, karena definisi tersebut memberi peluang pada peneliti pasar melakukan tugas menetapkan tingkat peneterasi penjualan dipasar yang menjadi sifat produk sebagai inovasi.

Definisi yang berorientasi konsumen

Walaupun ketiga pendekatan diatas berguna abagi para peneliti konsumen dalam penelitian mereka menegnai penyebaran inovasi, beberapa peneliti lebih menyukai pendekatan yang berorientasi konsumen dalam mendefinisikan inovasi. Dalam konteks ini, produk “baru” adalah setiap produk yang dinilai calon konsumen sebagai baru.

Sifat-sifat produk yang mempengaruhi penyebaran

Semua produk “baru” tidak mempunyai keungkinan yang sama untuk diterima konsumen.

Terdapat lima karakteristik produk yang kelihatan mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap produk baru, yaitu :

  1. Keunggulan relatif
  2. Kecocokan
  3. Kerumitan
  1. SALURAN KOMUNIKASI

Beberapa kecepatan inioasi menyebar keseluruh pasar tergantung pada banyaknya komunikasi antara pemasar dan para consumen, maupun komunikasi diantara para consumen (komunikasi lisan). Yang menjasi pokok perhatian adalah tidak terbukanya pengaruh relatif sumber-sumber impersonal (masalah iklan dan editorial) dan sumber-sumber antar personal (tenaga penjual dan pemimpin pendapat informasi).

  1. SISTEM SOSIAL

Penyebaran produk baru biasanya terjadi dilingkungan social tertentu yang sering disebut sistem sosial. Dalam konteks perilaku konsumen, istilah segmen pasar dan pasar target ( pasar sasaran) mungkin lebih relevan daripada istilah sistem sosial yang digunakandalam penelitian mengenai penyebaran. Statu sistem sosial merupakan sebuah lingkungan fisik, sosial, atau kulyural tempat orang-orang menjadi bagian dan tempat mereka melakukan fungís masing-masing.

Menurut seorang ahli, karakteristik berikut ini melambangkan suatu sistem sosial modern.

  • Sikap yang positif terhadap perubahan
  • Teknologi maju dan tenaga kerja yang trampil
  • Rasa hormat yang umum terhadap pendidikan dan ilmu pengetahuan
  • Penekanan pada hubungan sosial yang rasional dan tertib daripada hubungan emocional
  • Perspektif yang lebih jauh, dimana para anggota sistem sering berinteraksi dengan orang luar, dengan demikian mempermudah masuknya berbagai gagasan baru kedalam sistem sosial
  • Sistem dimana para anggota dengan cepat dapat melihat diri mereka dalam peran yang Sangay berbeda
  1. WAKTU

Waktu merupakan tulang punggung proses penyebaran . bahasa tentang waktu meliputi studi penyebaran dalam tiga cara yang berbeda tetapi saling berhubungan :

  1. Waktu pembelian
  2. Kategori pemakai

lima kategori pemakaian sering disebut dalam literatur mengenai penyebaran  :

  • Inovator
  • Pemakai awal
  • Mayoritas awal
  • Mayoritas belakangan
  • Orang yang terlambat
  1. Kecepatan pemakaian

PROSES ADOPSI

Proses utama kedua dalam penyebaran inovasi dalah adopsi. Fokus proses ini adalah tahap-tahap dilalui seseorang konsumen sebelum sampai pada keputusan untuk mencoba atau terus menggunakan atau berhenti menggunakan suatu produk tersebut. (proses adopsi tidak bole dikacaukan dengan kategori pemakai).

TAHAP-TAHAP PROSES ADOPSI

Sering diamsumsikan bahwa konsumen bergerak melalui lima tahap untuk sampai ke keputusan untuk membeli atau menolak produk baru tertentu :

  • Kesadaran
  • Minat
  • Penilaian
  • Percobaan
  • Pamakaian (penolakan)

 

Posted in TUGAS AKHIR PERILAKU KONSUMEN | Leave a comment

BAB 11 – KONSEP BUDAYA DAN ARTI PENTINGNYA MEMPERHATIKAN FAKTOR BUDAYA DALAM PENYUSUNAN STRATEGI PEMASARAN

Budaya adalah keseluruhan yang kompleks (complex whole) meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum moral, kebiasaan, dan setiap kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh oleh setiap orang sebagai anggota masyarakat.

Ada 4 (empat) komponen dalam budaya, yaitu :                            

Merupakan konsep yang komprehensip atau menyeluruh, sebab budaya meliputi hampir semua hal yang mempengaruhi proses pemikiran individu dan perilakunya.

 

Budaya diperoleh (culture is acquired). Budaya tidak meliputi respond an predisposisi yang diwariskan. Namun demikian, oleh karena sebagian besar perilaku manusia dipelajari dari pada pembawaan sejak lahir (learned rather than innate), maka budaya benar-benar mempengaruhi perilaku.

 

Kekompakkan masyarakat modern sedemikian rupa sehingga budaya jarang memberikan resep yang rinci untuk perilaku yang tepat. Sebagai gantinya, di dalam masyarakat industri, budaya memberikan batas (boundaries) di dalam batas mana individu atau perorangan berpikir dan bertindak.

Ciri pengaruh budaya ialah bahwa kita jarang menyadarinya. Seseorang berperilaku, berfikir dan merasa konsisten dengan anggota lainnya dari yang sama, sebab kelihatannya memang alamiah (natural) atau memang sudah benar apa yang dia lakukan.

 

Budaya beroperasi dengan batas yang tidak jelas untuk perilaku individu dan dengan mempengaruhi fungsi institusi atau lembaga seperti famili atau media massa. Jadi budaya menyediakan kerangka kerja (framework) di mana gaya hidup individu dan rumah tangga terlibat.

Berikut adalah gambar dari faktor budaya yang mempengaruhi perilaku dan strategi pemasaran..

 

 

Kenyataan menunjukkan bahwa baik Negara yang maju maupun yang sedang berkembang sangat memperhatikan pengaruh westernisasi khususnya Amerika nisasi terhadap budaya Negara mereka.Variasi di Dalam Nilai Budaya

Ada banyak nilai yang bervariasi lintas budaya dan mempengaruhi konsumsi. Ada 3 bentuk nilai budaya, yaitu :

Berorientasi pada Pihak Lain

Berorientasi pada pihak lain (other oriented) mencerminkan pandangan suatu masyarakat tentang hubungan yang tepat antara individu/perorangan dengan kelompok dalam suatu masyarakat tersebut. Hubungan ini mempunyai pengaruh besar pada praktik pemasaran. Berikut uraian yang lebih lanjut :

  • “Perorangan/Kolektif”.
  • Youth/Age.
  • Extended/Limited Family.
  • Masculine/Feminine.
  • Competitive/Comperative.
  • Diversity/Uniformity.

 > Berorientasi pada Lingkungan atau “Environment Oriented”

Berorientasi pada lingkungan (environment oriented) menentukan hubungan masyarakat dengan ekonominya serta lingkungan fisik dan teknis. Sebagai pemasar harus mengembangkan suatu program pemasaran yang berbeda untuk suatu masyarakat.

  • Kebersihan (cleanliness).
  • Kinerja/status
  • Tradisi/perubahan
  • Risk Taking/Security
  • Problem Solving/Fatalistic.
  • Alam (nature)

Berorientasi pada Diri Sendiri

Berorientasi pada diri sendiri (self oriented) mencerminkan tujuan dan pendekatan terhadap hidup, bahwa anggota perorangan dari masyarakat lebih diinginkan (bukan kelompok yang di utamakan). Nilai ini mempunyai implikasi yang kuat untuk manajemen pemasaran.

  • Active/Passive
  • Sensual Gratification/abstinence
  • Material/Non material
  • Hard work/Leisure
  • Postpone gratification/Immediate gratification
  • Religious/Secular

Variasi Kultural (Budaya) dalam Komunikasi Non Verbal

Variasi dalam bahasa verbal mudah dilihat dan diterima sebab kita menyadari bahwa bahasa merupakan suatu invensi sembarang artinya suatu kata (a word) berarti bahwa sekelompok orang rendah menyetujui artinya. Suatu upaya menterjemahkan komunikasi pemasaran dari satu bahasa ke bahasa lain dapat mengakibatkan komunikasi yang tidak efektif.

 

Budaya dan Demografi Global

Isu penting yang dihadapi oleh pemasar adalah perluasan pada salah satu atau lebih pada budaya global konsumen atau pangsa yang tergabung.

Budaya global diciptakan oleh globalisasi media masa, pekerjaan, pendidikan dan perjalanan. Beberapa kategori (telepon genggam, internet, faks) dan merek (sony, nike, jaguar, Aigner) menjadi simbolis yang terkait dengan budaya ini. Hal ini tidak berarti bahwa merek-merek ini menggunakan iklan yang sama secara global akan tetapi tema dan symbol yang mendasari sama.

Strategi Pemasaran Lintas Budaya

Kontroversi berlanjut masih terjadi mengenai sejauh mana strategi pemasaran lintas budaya, khususnya mengenai periklanan, harus dibuat baku (standardized). Strategi yang baku, kalau bisa, akan sangat menghemat biaya.


Posted in TUGAS AKHIR PERILAKU KONSUMEN | Leave a comment

BAB 10 – PENGARUH BUDAYA DALAM PERILAKU KONSUMEN

KANDUNGAN SUATU BUDAYA

Kandungan utama budaya sering digunakan sebagai pendekatan oleh pemasar dalam menganalisis budaya untuk melakukan terobosan pemasaran. Pemasar biasanya berfokus pada nilai-nilai dominan dalam suatu masyarakat. Kandungan suatu budaya ( content of culture) adalah kepercayaan, sikap, tujuan, dan nilai-nilai yang dipegang oleh sebagian besar masyarakat dalam suatu lingkungan yang menyangkut aspek-aspek lingkungan sosial ( ragam agama dan kepercayaan, ragam partai politik , dsb) dan fisik ( produk, peralatan , gedung dan bangunan dsb) dalam masyarakat tertentu.

Tujuan dalam analisis budaya adalah untuk memahami kandungan makna dari sudut pandang konsumen yang menciptakan dan menggunakannya. Misalnya pengibaran bendera memiliki tanggapan rasa patriotisme dan semangat juang, diskon 50% adalah memiliki tanggapan “daya tarik” yang heboh, antri lebih dari 30 menit bagi sebagian orang Amerika membuat frustasi dan marah, namun di bagian masyarakat Indonesia merupakan hal yang biasa saja, sehingga ada slogan” budayakan antri yang ada gambarnya bebek berbaris rapi.

MENGUKUR KANDUNGAN BUDAYA

Pemasar dapat menggunakan berbagai prosedur untuk mengukur kandungan budaya yaitu melalui analisis kandungan budaya, penelitian etnografis dan pengukuran nilai. Pendekatan yang umum dipakai adalah dengan penelitian konsumen melalui wawancara, survei, telepon bahkan fokus group). Analisis kandungan budaya dapat dilakukan dengan mengamati obyek material yang ada dalam kelompok sosial, misalnya komik yang beredar di kalangan anak-anak sering berisi tentang nilai-nilai persahabatan, nilai agama, bahkan ini dapat diamati selama periode waktu tertentu, seperti perubahan peran wanita yang bekerja dalam puluhan tahun terakhir sehingga iklan dapat disentuhkan dengan keberadaan mereka.

Pengukuran nilai cenderung dilakukan secara langsung untuk melihat nilai dominan, dengan alat penilaian tertentu seperti rangking nilai yang dominan dan menggunakan metode statistik tertentu.

Beberapa perubahan pemasaran yag dapat mempengaruhi kebudayaan, seperti :

  1. Tekanan pada kualitas
  2. Peranan wanita yang berubah
  3. Perubahan kehidupan keluarga
  4. Sikap yang berubah terhadap kerja dan kesenangan
  5. Waktu senggang yang meningkat
  6. Pembelian secara impulsif

A. BUDAYA

Budaya nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, aturan-aturan dan norma-norma yang melingkupi suatu kelompok masyarakat akan mempengaruhi sikap dan tindakan individu dalam masyarakat tersebut. Sikap dan tindakan individu dalam suatu masyarakat dalam beberapa hal yang berkaitan dengan nilai, keyakinan aturan dan norma akan menimbulkan sikap dan tindakan yang cenderung

 

homogen. Artinya, jika setiap individu mengacu pada nilai, keyakinan, aturan dan norma kelompok, maka sikap dan perilaku mereka akan cenderung seragam. Misalnya dalam suatu masyarakat ada aturan mengenai bagaimana melakukan pernikahan sehingga laki-laki dan perempuan dapat disahkan sebagai suami istri. Ketika anggota masyarakat akan menikah, maka proses yang dilalui oleh anggota masyarakat itu akan cenderung sama dengan anggota masyarakat yang lainnya.

Definisi di atas menunjukkan bahwa budaya merupakan cara menjalani hidup dari suatu masyarakat yang ditransmisikan pada anggota masyarakatnya dari generasi ke generasi berikutnya. Proses transmisi dari generasi ke generasi tersebut dalam perjalanannya mengalami berbagai proses distorsi dan penetrasi budaya lain. Hal ini dimungkinkan karena informasi dan mobilitas anggota suatu masyarakat dengan anggota masyarakat yang lainnya mengalir tanpa hambatan.

Aspek-Aspek Budaya

Budaya bersifat dinamis dan tidak statis. Budaya secara berkelanjutan berevolusi, meramu gagasan-gagasan lama dengan kemasan baru dan seterusnya. Suatu sistem budaya terdiri atas area-area fungsional sebagai berikut:

 

1. Ekologi

2. Struktur social

3. Ideologi

Orientasi Nila Kultural

Terdapat enam dimensi nilai budaya pada berbagai budaya yang berbeda (McCarty & Hattwick: 1992) sebagai berikut:

• Individual versus kolektif

• Maskulinitas/feminitas

• Orientasi waktu

• Menghindari ketidakpastian

• Orientasi aktivitas

• Hubungan dengan alam

Dalam suatu masyarakat tertentu, orientasi nilai di atas akan mengalami perubahan sesuai dengan proses adaptasi yang terjadi. Nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat dari waktu ke waktu terns berubah.

Strategi Pemasaran dengan Memperhatikan Budaya

Beberapa strategi pemasaran bisa dilakukan berkenaan dengan pemahaman budaya suatu masyarakat. Dengan memahami budaya suatu masyarakat, pemasar dapat merencanakan strategi pemasaran pada penciptaan produk, segmentasi dan promosi.

Segmentasi Pasar Promosi

Implikasi dari sebuah segmentasi yang dilakukan dibutuhkan strategi promosi yang difokuskan pada segmen sasaran saja.Pemahaman budaya juga bisa dijadikan dasar untuk memposisikan produk melalui iklan. Iklan dirancang sedemikian rupa, sehingga isinya memposisikan produk untuk ritual-ritual budaya tertentu. Misalnya iklan produk berlian yang dalam iklannya secara khusus menampilkan suasana perkawinan. Maksud iklan tersebut adalah bahwa berlian adalah barang yang cocok untuk dijadikan hadiah istimewa pada peristiwa perkawinan, atau acara-acara istimewa lainnya.

 

B. KELAS SOSIAL

Kelas social adalah pelapisan sosial yang terjadi pada msyarakat. Dalam setiap masyarakat terdapat kelas sosial. Pelpisan sosial terjadi karena dalam suatu masyarakat ada sesuatu yang dianggap bernilai. Orang yang memiliki sesuatu yang bbernilai dalam jumlah banyak akan menduduki kelas sosial yang tinggi. Orang dengan sedikit sesuatu yang dianggapa bernilai dalam masyarakat akan menduduki kelas bawah. Sesuatu yang dianggap bernialai dalam suatu masyarakat berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat alinnya. Dalam masyarakat agraris sesuatu yang bernilai itu dapat berupa sawah yang luas, rumah yang besar, dan hewan ternak yang banyak. Dalam masyarakat kapitalis sesuatu yang dianggap bernialai adalah harta kekayaan. Oleh karena itu banyak variabel yang menentukan kelas sosial seseorang.

Variabel yang membentuk kelas sosial dapat berupa:

 

1. Ekonomi : Pekerjaan, Pendapatan, dan Kekayaan

2. Interaksi : Prestis pribadi, Asosiasi, Sosialisasi

3. Politik : Kekuasaan, Kesadaran kelas, dan Mobilitas /suksesi.

 

Kelompok Kelas Sosial

Kelas sosial dapat dibagi menjadi beberapa kelompok. Namun pada intinya kelas sosial itu berkisar antara kelas sosial atas sampai bawah. Untukkepentingan pemasaran kelasa sosial itu dapat dibagi menjadi; kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Untuk suatu kajian yang lebih detail pembagian itu dapat lebih dipertajam, misalanya kelasa atas dibagi lagi menjadi kelas atas atas, atas menenggah dan atas bawah. Gambaran pembagiankelas sosial dapat dibuat sebagai berikut

 

1. Kelas atas dicirikan dengan pendapatan besar, intelek, membeli barang yang bergengsi, ikut dalam klub bergengsi, suka perjalanan ke negara maju.

2. Kelas menengah dicirikan dengan kehidupan baik, membeli apa yang populer, membelajakan uang untuk hal-hal yang layak untuk dialami, memberikan perhatian tinggi pd rumah.

3. Kelas bawah dicirikan dengan sangat tergantung pd dukungan ekonomi dan emosional dr sanak keluarga, menginginkan kemudahan berkarya dan hiburan, bertahan dr cobaan dunia menuju “karunia Tuhan”.

 

Posted in TUGAS AKHIR PERILAKU KONSUMEN | Leave a comment

BAB 9 – KELAS SOSIAL DAN STATUS SOSIAL, PENGUKURAN KELAS SOSIAL, MOBILITAS SOSIAL

KELAS SOSIAL DAN STATUS SOSIAL

Para peneliti sering mengukur kelas social dari sudut status social yaitu dengan membatasi setiap kelas social dengan banyaknya status  yang di punyai para anggota di bandingkan dengan yang di punyai para anggota kelas social lain. Dalam penelitian kelas social (disebut juga stratifikasi sosial), status sering sering di anggap sebagai penggolongan relative para anggota setiap kelas social dari segi factor-faktor status tertentu. Sebagai contoh, kekayaan relative (banyak asset ekonomi), kekuasaan (tingkat pilihan atau pengaruh pribadi terhadap orang lain) dan martabat (tingkat pengakuan yang diperoleh dari orang lain) merupakan tiga factor yang sering digunakan ketika menilai kelas social. Ketika mempertimbangkan perilaku  konsumen dan riset pasar, status paling sering ditentukan  dari sudut satu variable demografis atau yang lebih cocok seperti ini (sosioekonomi) :

  • Penghasilan keluarga
  • Status pekerjaan
  • Pencapaian pendidikan.

Variable-variable sosioekonomi ini, sebagai gambaran status, digunakan sehari-hari oleh para praktisi pemasaran untuk mengukur kelas social.

KELAS SOSIAL MERUPAKAN BENTUK SEGMENTASI HIERARKIS DAN ALAMIAH.

Kategori kelas social biasanya disusun dalam hierarki, yang berkisar dari status rendah sampai status yang tinggi. Dengan demikian, para anggota kelas tertentu merasa para anggota kelas sosial lainya mempunyai status yang lebih tinggi atau yang lebih rendah dari pada mereka. Karena itu, bagi kebanyakan orang,penggolongan social berarti orang tersebut sama dengan mereka (dalam kelas social yang sama), superior dibanding mereka (kelas social yang lebih tinggi), maupun inferior dibanding mereka (kelas social yang lebih rendah).

 

UKURAN KELAS SOSIAL

Pendekatan yang sistematis untuk mengukur kelas social tercakup dalam berbagai kategori yang luas berikut ini, ukuran subyektif, ukuran reputasi, dan ukuran obyektif dari kelas social.

 

UKURAN SUBYEKTIF.

Dalam pendekatan subyektif untuk mengukur kelas social, para individu di minta untuk menaksir kedudukan kelas social mereka masing-masing, klasifikasi keanggotaan kelas social yang di hasilkan di dasarkan pada persepsi partisipasi terhadap dirinya atau citra diri partisipan. Kelas social di anggap sebagiai fenomena yang menggambarkan rasa memiliki atau mengidentifikasi dengan orang lain.ukuran keanggotaan social yang subyektif cenderumg menghasilkan berlimpahnya orang yang menggolongkan diri sebagai kelas menengah.

 

UKURAN REPUTASI

Para sosiolog telah menggunakan pendekatan reputasi untuk memperoleh pengertian yang lebih baik mengenai struktur masyarakat tertentu yang sedang di pelajari. Tetapi, para peneliti konsumen lebih tertarik pada ukuran kelas social untuk memahami pasar dan perilaku konsumsi dengan lebih baik, bukan struktur social. Sesuai dengan tujuan yang lebih terfokus ini, pendekatan reputasi telah terbukti tidak dapat di pergunakan.

 

UKURAN OBYEKTIF

Berbeda dengan metode subyektif dan reputasi. Yang mengharuskan orang memimpikan kedudukan kelas social mereka sendiri atau kedudukan para anggota masyarakat lainya, ukuran obyektif terdiri dari berbagai variable demografis atau sosioekonomis yang dipilih mengenai para individu yang sedang di pelajari. Semua variable ini di ukur melalui kuesioner yang berisi beberapa pertanyaan factual kepada para responden mengenai diri mereka sendiri, keluarga atau tempat tinggal mereka. Ketika memilih ukuran obyektif kelas social, kebanyakan peneliti lebih menyukai satu atau beberapa variable berikut ini, pkerjaan, jumlah penghasilan, dan pendidikan.

 

Ukuran obyektif kelas social terbagi menjadi dua kategori pokok yaitu, indeks variable tunggal indeks dan variable gabungan

 

INDEKS VARIABLE TUNGGAL

Indeks variable tunggal hanya menggunakan satu variable social ekonomi untuk menilai keanggotaan kelas social. Beberapa dari variable yang di gunakan untuk tujuan ini di bahas berikut ini.

–  Pekerjaan

–  Pendidikan

–  Penghasilan

–  Variable lain

 

INDEKS VARIABLE GABUNGAN

Indeks gabungan secara sistematis menggabungkan sejumlah factor social ekonomi untuk membentuk satu ukuran kelas social secara menyeluruh. Indeks tersebut sangat menarik bagi para peneliti konsumen karena dapat menggambarkan dengan lebih kompleks kelas social di bandingkan indeks variable tunggal.

Dua diantara indeks gabungan yang lebih penting adalah indeks karakteristik status dan skor status social ekonomi.

  1. 1.      Indeks karakteristik status, ukuran kelas social yang klasik adalah ukuran tertimbang dari berbagai variable social ekonomi berikut, pekerjaan, sumber penghasilan, model rumah, dan daerah tempat tinggal.
  2. 2.      Skor status social ekonomi, ukuran kelas social ini yang menggabungkan antara tiga variable social ekonomi dasar yaitu, pekerjaan, keluarga dan tingkat pendidikan.
Posted in TUGAS AKHIR PERILAKU KONSUMEN | Leave a comment

BAB 8 – PENGERTIAN KELOMPOK REFERENSI

Kelompok referensi disebut juga sebagai acuan.Kelompok referensi merupakan sekelompok orang yang secara nyata mempengaruhi perilaku seorang secara langsung atau tidak langsung.Kelompok referensi ini berguna sebagai referensi seseorang dalam pengambilan keputusandan sebagai dasar pembandingan bagi seseorang dalam membentuk nilai dan sikap umum / khusus atau pedoman khusus bagi perilaku.

Jenis – jenis kelompok referensi berdasarkan pengelompkannya yaitu :

1. Menurut intensitas interaksi dan kedekatannya

•           Kelompok primer

•           Kelompok sekunder

2. Menurut legalitas keberadaan

•           Kelompok formal

•           Kelompok informal

3. Menurut status keanggotaan dan pengaruh

•           Kelompok aspirasi

•           Kelompok disosiasi

•           Primary / secondary

•           Membership

Untuk dapat mempunyai pengaruh tersebut, kelompok rujukan harus melakukan hal – hal berikut ini :

  • Memberitahukan  atau  mengusahakan agar orang menyadari adanya suatu produk / merk khusus
  • Memberikan  kesempatan pada individu untuk membandingkan pemikirannya sendiri dengan sikap dan perilaku kelompok
  • Mempengaruhi  individu untuk mengambil sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma kelompok
  • Membenarkan  keputusan untuk memakai produk-produk yang sama dengan kelompok

Kelompok referensi terdiri atas dua jenis, yaitu :

–  Kelompok referensi normative

– Kelompok referensi komparatif

Untuk mendorong timbulnya conformity maka kelompok referensi harus melakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Memberitahukan atau mengusahakan agar orang menyadari adanya sesuatu produk menarik atau merek yang khusus.
  2. Memberikan kesempatan kepada individu untuk membandingkan pemikirannya sendiri dengan sikap dan perilaku kelompok
  3. Mempengaruhi individu untuk mengambil sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma kelompok.
  4. Membenarkan keputusan untuk memakai produk-produk yang sama dengan kelompok.

Beberapa peran penting dari keluarga antara lain :

  1. Memenuhi kesejahteraan secara ekonomi
  2. Memberikan dukungan emosional
  3. Membentuk gaya hidup
  4. Sosialisasi

Pengambilan Keputusan dan Peran Anggota Keluarga

Menurut Schiffman dan Kanuk terdapat 8 peran yang dilakukan oleh anggota keluarga, antara lain :

1.  Penjaga pintu (gatekeepers)

2. Pemberi pengaruh

3. Pengambil keputusan (decision maker)

4. Pembeli (buyer)

5. Penyiap (preparer/installer)

6. Pengguna (user)

7. Pemelihara (maintener)

8. Pembuang (disposer)

 Menurut Neighbour (1985) thapan, tugas dan masalah yang menjadi isu penting dalam setiap tahapan siklus kehidupan keluarga adalah sebagai berikut :

Tahap Perkawinan

Tahap Melahirkan Anak

Tahap Membesarkan Anak-Anak Memasuki Sekolah Dasar

Membesarkan Anak-Anak Usia Remaja

Keluarga Mulai Melepaskan Anak-Anak

Tahun-tahun Pertengahan

Usia Tua

Berdasarkan segmen keluarga yang dipilih ini perusahaan dapat menyusun bauran pemasaran melalui :

–  Strategi Produk

–  Strategi Promosi

–  Strategi Harga

–  Distribusi

Posted in TUGAS AKHIR PERILAKU KONSUMEN | Leave a comment